Jumat, 13 Februari 2009

Manusia, Ancaman Terbesar Sektor Perikanan Sultra .:.

By Line: Abdul Saban

Sektor perikanan yang menjadi andalan Sultra kini terancam. Hal itu disampaikan oleh Ir. Muhamad Aslan, Dekan Fakultas Perikanan Unhalu di ruang kerjanya Rabu (3/9) lalu. Menurutnya, ancaman terbesar yang sedang menerpa sektor perikanan saat ini adalah manusia sendiri. Upaya pengolahan sumber daya alam yang tidak mengutamakan kelestariannya merupakan salah satu praktek pembangunan yang tidak berkelanjutan.
Aslan mencontohkan, daerah yang sedang terancam sektor perikananya itu adalah pulau Wawonii, kabupaten Konawe. Saat ini, pulau seluas 1005 km2 itu, sudah kapling-kapling oleh perusahaan tambang dengan berbagai kelas galian. Dia mengkhawtirkan, kondisi ini justru akan menggeser keberadaan sumber daya perikanaan pesisir, utamanya perikanan budidaya rumput laut dan teripan. “Organisme laut sangat sensitif dengan pencemaran, utamanya limbah dan sedimentasi,” katanya mengingatkan.
Terlebih lagi tekstur tanah di pulau Wawonii memiliki pengaruh yang relatif besar dalam mempengaruhi besar kecilnya erosi. Indeks erodibilitas tanah yang sangat tinggi berkisar 0,40 sampai 0,58, dengan tekstur tanah lempung liat berpasir masuk kategori tanah yang peka terhadap erosi. Struktur tanah yang terdiri atas struktur gumpal bersudut dan gumpal berbulat memiliki porositas sedang, menyebabkan air sulit meresap kedalam tanah dan aliran permukaan besar sehingga memiliki pengaruh yang besar terhadap terjadinya erosi.
Selain itu, permeabilitas tanah sedang sampai lambat, yang memperkecil daya infiltrasi dan sulitnya air meresap kedalam tanah sehingga aliran permukaan dapat memperbesar terjadinya erosi dan memperbesar kehilangan unsur hara atau bahan organik tanah.
Untuk itu, dia mengigatkan agar pemerintah mesti berpikir panjang dalam melirik potensi alam di pulau ini. Lebih jauh dia menjelaskan bahwa, metode pembangunan pemeritah daerah dan propinsi saat ini memang belum menunjukan keberpihakannya kepada sektor perikanan ini. Hal itu dapat dimaklumi karena, sektor ini membutuhkan invest yang cukup tinggi, selain itu diperlukan waktu yang lama untuk dapat menikmati hasilnya.
Dibandingkan dengan pertambangan, sektor ini jauh lebih menggiurkan karena hasilnya bisa cepat diperoleh. “mengeluarkan ijin saja, pemerintah sudah dapat incomenya,” ujarnya.
Namun pemikiran paradoks ini justru dapat berakibat fatal terhadap keberadaan sumber daya alam lainnya. Karena, konsekwensi aktivitas pertambangan adalah perubahan bentang alam, dan hilangnnya sumber-sumber mata pencaharian lain.
Menurut dia, potret pertembangan di Indonesia belum ada yang bisa melakukan good mining practice. “Karena memang tidak ada tambang yang ramah lingkungan,” terangnya.
Hal itu diakui oleh Ir. Hakku Wahab, Kadis Pertambangan dan Energi (Distamben) Sultra. Menurutnya memang tidak ada pertambangan yang tidak merusak alam, karena sejak awal aktivitasnya, meraka sudah mengupas permukaan tanah, selanjutnya digali hingga kedalamannya mencapai puluha meter. ‘itu mekanisme pertambangan,” katanya.
Dalam perspektif ekonomi, jalan keluar dari sejumlah persoalan tersebut adalah melalui revitalisasi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang selama ini menjadi andalan, dan pengembangan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru secara berkelanjutan. Selain itu, setiap sektor pembangunan harus mampu menghasilkan produk dan jasa yang kompetitif. Selanjutnya, kekayaan yang dihasilkan dari mesin pertumbuhan ekonomi tersebut distribusikan kepada seluruh rakyat secara berkeadilan. Sebagai negara kepulauan dan maritim terbesar di dunia, Indonesia memiliki kekayaan laut yang sangat beragam dan besar.
Sedikitnya ada 10 sektor ekonomi kelautan yang dapat dikembangkan untuk kemajuan dan kemakmuranrakyat. Potensi nilai ekonomi kesepuluh sektor kelautan itu diperkirakan mencapai 2 triliun dolar AS per tahun atau sekitar 25 kali lipat APBN 2007 atau enam kali PDB saat ini. Kesempatan kerja yang dapat diserap oleh kesepuluh sektor ekonomi itu mencapai 30 juta orang.
Sementara, tingkat pemanfaatannya hingga kini masih terlalu rendah. Ini tercermin pada kontribusi sektor kelautan terhadap ekonomi daerah yang hanya mencapai 12 persen dan menyediakan 15 persen dari total tenaga kerja nasional pada 2006. Dengan demikian, peluang untuk menjadikan kekayaan laut sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan sangatlah besar.
Peluang ini diperkuat oleh semakin meningkatnya kebutuhan manusia terhadap bahan pangan, energi, obat-obatan, bahan tambang, mineral, sumberdaya alam (SDA), serta jasa-jasa lingkungan lainnya seiring dengan terus bertambahnya penduduk dunia. Padahal sekarang saja, SDA dan jasa-jasa lingkungan di daratan sudah menipis atau habis. Peran laut juga akan semakin strategis bagi daerah ini, karena pergesaran pusat ekonomi dunia dari Poros Atlantik ke Asia-Pasifik.
Untuk dapat mentranformasi kekayaan laut menjadi realitas kemajuan dan kemakmuran bangsa, pembangunan kelautan mesti diarahkan untuk menggapai lima tujuan secara simultan dan proporsional, yakni: (1) pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, (2) peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkeadilan, (3) perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat melalui peningkatan konsumsi ikan per kapita, (4) pemeliharaan daya dukung dan kualitas lingkungan laut, dan (5) penguatan jiwa persatuan dan kesatuan bangsa melalui laut sebagai pemersatu. Tujuan pembangunan kelautan tersebut dapat dicapai dengan meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor-sektor ekonomi kelautan yang ada. Secara simultan kita harus melakukan eksplorasi dan pengembangan sektor-sektor ekonomi kelautan baru. Semua aktivitas dari setiap sektor ekonomi kelautan hendaknya dikelola secara terpadu. (***)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar